KEBAHAGIAAN
DAN KEPEDIHAN DALAM KUBUR
Kubur adalah gerbang
pertama setelah kematian.Tempat ini menjadi sinyal awal akan nasib seorang
hamba di akhirat.Kesuksesan didalamnya adalah tanda kebahagiaan di akhir
perjalanannya.Namun, kesengsaraan didalamnya menjadi pertanda akan sinyal
kengerian dan kesengsaran yang lebih dahsyat selanjutnya.
Karena itulah, Utsman
bin Affan mengucurkan air mata ketika melihat kuburan.dibalik keheningan dan
kesenyapan pemakaman, bisa jadi kegaduhan besar tengah terjadi didalamnya,
dimana malaikat memukul penghuninya dengan besi hingga teriakannya yang keras
bisa didengar makhluk disekitarnya, kecuali jin dan manusia.Andai keduanya
mendengar, tentulah akan pingsan karenanya.Bisa jadi pula, dibalik kesan seram
dan menakutkan tanah pekuburan, kenikmatan tiada tara tengah dialami oleh para
penghuninya yang beruntung.
Kebahagiaan dan
kepedihan yang dialami orang-orang dialam kubur berkait juga dengan manusia
yang masih dialam nyata.Seseorang yang telah pergi ke tempat penantian menuju
akhirat tersebut merasakan suatu kebaikan dan kemudharatan atas perilaku
keluarga yang masih hidup.Mereka merasa senang dan bahagia jika melihat keluarganya
menjalani ketaatan.Sebaliknya, mereka merassa sedih dan susah jka melihat
keluarganya bermaksiat kepada Allah.
Nabi berkata, “didalam
kubur, mayat merasakan sakit sebagaimana ia sakit pada waktu hidup.”
Dikatakan, “apa yang
dapat membuat mayat sakit?”
“Sesungguhnya mayat
tidak melakukan dosa, tidak berselisih dan bermusuhan denagn seseorang, serta
tidak menyakiti tetangga.kecuali, apabila engkau bermusuhan dengan seseorang
yang mencela dirimu dan kedua orang tuamu.maka, kedua orang tuamu tersakiti
karena kejelekan itu.demikian juga, mereka akan merasakan senang ketika
kebaikan terhadap hak mereka ditunaikan,”jawab beliau.
Sebagaimana terjadi
dalam sebuah cerita tentang Tsabit al-bannani.pada suatu malam jum’at, ia
berkunjung ke kuburan.ia bermunajat kepada tuhan sampai subuh datang.Pada saat
bermunajat, ia merasakn kantuk hingga akhirnya tertidur.Ia lalu bermimpi bahwa semua
penghuni kubur keluar dari kubur dengan pakaian paling yang baik dan wajah yang
putih.masing-masing membawa aneka makanan.namun, diantara mereka terdapat
seorang pemuda yang berwajah pucat, rambutnya acak-acakan, bersedih hati,
berpakaian jelek, menundukkan kepala, mengalirkan air mata, dan tidak membawa
makanan.setelah beberapa waktu kemudian, penghuni kubur lain kembali ke dalam
kubur dengan senang.namun, pemuda tersebut kembali ke kubur dengan putus asa,
muram, dan sedih.
Lalu, tsabit bertanya
tentang keadaannya, “wahai pemuda, siapa kamu diantara orang-orang itu? Mereka
membawa makanan dan kembali ke kubur dengan senang.sedangakn engkau tidak
membawa makanan dan putus asa untuk memperoleh makanan.lalu, engkau kembali ke
dalam kubur dengan sedih dan susah.”
Pemuda tersebut
menjawab, “wahai imam orang islam, sesungguhnya aku asing diantara mereka.aku
tidak mempunyai saudara yang mengingat kebaikan dan doa.sedangkan mereka
mempunyai anak, kerabat, dan teman yang mengingat mereka denagn doa, kebaikan,
dan shadaqah pada setiap malam jum’at.kebaikan-kebaikan dan pahala shadaqah
sampai kepada mereka.aku hanyalah seorang laki-laki yang akan melaksanakan
haji.saat dalam perjalanan melaksanakan haji, takdir kematian allah berlaku
kapadaku.ibuku menguburkanku di kubur ini.ia menikah lagi dengan denagn seorang
laki-laki.setelah menikah, ia melupakanku dan tidak meningatku denagn doa dan
shadaqah.maka, aku putus asa dan sedih pada setiap waktu dan saat.”
Kemudian, tsabit
berkata , “wahai pemuda, beri tahu aku tempat tinggal ibumu.aku akan
memberitahukan keadaanmu saat ini kepadanya.”
“wahai imam orang islam, ia berada di suatu kampong
dan rumah demikian.beri tahu ia.apabila ia tetap tidak bershadaqah untukku,
katakana kepadanya bahwa di saku bajunya terdapat seratus mitsqal emas harta
warisan ayah.itu menjadi hakku, agar ia bershadaqah dengan uang tersebut,”
jawab pemuda itu.
Keesokan harinya,
tsabit pergi dan mencari ibu sang pemuda.ditempat yang ditunjukkan pemuda
tersebut, tsabit menemukan ibunya.ia menceritakan perihal anaknya dan mitsqal
yang ada didalam sakunya.perempuan tersebut langusung pingsan mendengar kabar
dari tsabit tentang anaknya.setelah siuman, perempuan tersebut menyerahkan
seratus mistqal kepada tsabit al-bannani.
Ia berkata, “aku
wakilakan kepadamu untuk menshadaqahkan dirham ini untuk anakku yang menjadi
asing.”
Tsabit mengambilnya dan
menshadaqahkan uang tersebut.pada malam jum’at, disaat tsabit pergi mengunjungi
saudara-saudaranya, ia mengantuk dan tertidur.dalam tidurnya, ia bermimpi
seperti mmimpi pada beberapa hari sebelumnya.dalam mimpi tersebut,pemuda itu
memakai pakaian terbaik dengan wajah berseri-seri dan hati yang gembira.
Lalu, pemuda tersebut
berkata, “semoga allah menyayangimu sebagaimana engkau menyayangiku.”
Sumber : terjemah kitab
Ushfuriyah karangan Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-ushfuri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar