Rabu, 12 Oktober 2016

kebahagiaan dan kepedihan dalam kubur



KEBAHAGIAAN DAN KEPEDIHAN DALAM KUBUR

Kubur adalah gerbang pertama setelah kematian.Tempat ini menjadi sinyal awal akan nasib seorang hamba di akhirat.Kesuksesan didalamnya adalah tanda kebahagiaan di akhir perjalanannya.Namun, kesengsaraan didalamnya menjadi pertanda akan sinyal kengerian dan kesengsaran yang lebih dahsyat selanjutnya.
Karena itulah, Utsman bin Affan mengucurkan air mata ketika melihat kuburan.dibalik keheningan dan kesenyapan pemakaman, bisa jadi kegaduhan besar tengah terjadi didalamnya, dimana malaikat memukul penghuninya dengan besi hingga teriakannya yang keras bisa didengar makhluk disekitarnya, kecuali jin dan manusia.Andai keduanya mendengar, tentulah akan pingsan karenanya.Bisa jadi pula, dibalik kesan seram dan menakutkan tanah pekuburan, kenikmatan tiada tara tengah dialami oleh para penghuninya yang beruntung.
Kebahagiaan dan kepedihan yang dialami orang-orang dialam kubur berkait juga dengan manusia yang masih dialam nyata.Seseorang yang telah pergi ke tempat penantian menuju akhirat tersebut merasakan suatu kebaikan dan kemudharatan atas perilaku keluarga yang masih hidup.Mereka merasa senang dan bahagia jika melihat keluarganya menjalani ketaatan.Sebaliknya, mereka merassa sedih dan susah jka melihat keluarganya bermaksiat kepada Allah.
Dalam sebuah hadits riwayat Sufyan dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW. Bersabda, “Sesungguhnya perbuatan orang-orang hidup ditunjukkan kepada keluarga dan orang tua mereka yang sudah meninggal.Apabila perbuatan itu baik, mereka memuji Allah dan merasa senang.Namun, apabila mereka melhat sebaliknya, mereka berkata, ‘Ya Allah, jangan Engkau matikan mereka sehingga Engkau memberi petunjuk kepada mereka.”
Nabi berkata, “didalam kubur, mayat merasakan sakit sebagaimana ia sakit pada waktu hidup.”
Dikatakan, “apa yang dapat membuat mayat sakit?”
“Sesungguhnya mayat tidak melakukan dosa, tidak berselisih dan bermusuhan denagn seseorang, serta tidak menyakiti tetangga.kecuali, apabila engkau bermusuhan dengan seseorang yang mencela dirimu dan kedua orang tuamu.maka, kedua orang tuamu tersakiti karena kejelekan itu.demikian juga, mereka akan merasakan senang ketika kebaikan terhadap hak mereka ditunaikan,”jawab beliau.
Sebagaimana terjadi dalam sebuah cerita tentang Tsabit al-bannani.pada suatu malam jum’at, ia berkunjung ke kuburan.ia bermunajat kepada tuhan sampai subuh datang.Pada saat bermunajat, ia merasakn kantuk hingga akhirnya tertidur.Ia lalu bermimpi bahwa semua penghuni kubur keluar dari kubur dengan pakaian paling yang baik dan wajah yang putih.masing-masing membawa aneka makanan.namun, diantara mereka terdapat seorang pemuda yang berwajah pucat, rambutnya acak-acakan, bersedih hati, berpakaian jelek, menundukkan kepala, mengalirkan air mata, dan tidak membawa makanan.setelah beberapa waktu kemudian, penghuni kubur lain kembali ke dalam kubur dengan senang.namun, pemuda tersebut kembali ke kubur dengan putus asa, muram, dan sedih.
Lalu, tsabit bertanya tentang keadaannya, “wahai pemuda, siapa kamu diantara orang-orang itu? Mereka membawa makanan dan kembali ke kubur dengan senang.sedangakn engkau tidak membawa makanan dan putus asa untuk memperoleh makanan.lalu, engkau kembali ke dalam kubur dengan sedih dan susah.”
Pemuda tersebut menjawab, “wahai imam orang islam, sesungguhnya aku asing diantara mereka.aku tidak mempunyai saudara yang mengingat kebaikan dan doa.sedangkan mereka mempunyai anak, kerabat, dan teman yang mengingat mereka denagn doa, kebaikan, dan shadaqah pada setiap malam jum’at.kebaikan-kebaikan dan pahala shadaqah sampai kepada mereka.aku hanyalah seorang laki-laki yang akan melaksanakan haji.saat dalam perjalanan melaksanakan haji, takdir kematian allah berlaku kapadaku.ibuku menguburkanku di kubur ini.ia menikah lagi dengan denagn seorang laki-laki.setelah menikah, ia melupakanku dan tidak meningatku denagn doa dan shadaqah.maka, aku putus asa dan sedih pada setiap waktu dan saat.”
Kemudian, tsabit berkata , “wahai pemuda, beri tahu aku tempat tinggal ibumu.aku akan memberitahukan keadaanmu saat ini kepadanya.”
“wahai imam orang islam, ia berada di suatu kampong dan rumah demikian.beri tahu ia.apabila ia tetap tidak bershadaqah untukku, katakana kepadanya bahwa di saku bajunya terdapat seratus mitsqal emas harta warisan ayah.itu menjadi hakku, agar ia bershadaqah dengan uang tersebut,” jawab pemuda itu.
Keesokan harinya, tsabit pergi dan mencari ibu sang pemuda.ditempat yang ditunjukkan pemuda tersebut, tsabit menemukan ibunya.ia menceritakan perihal anaknya dan mitsqal yang ada didalam sakunya.perempuan tersebut langusung pingsan mendengar kabar dari tsabit tentang anaknya.setelah siuman, perempuan tersebut menyerahkan seratus mistqal kepada tsabit al-bannani.
Ia berkata, “aku wakilakan kepadamu untuk menshadaqahkan dirham ini untuk anakku yang menjadi asing.”
Tsabit mengambilnya dan menshadaqahkan uang tersebut.pada malam jum’at, disaat tsabit pergi mengunjungi saudara-saudaranya, ia mengantuk dan tertidur.dalam tidurnya, ia bermimpi seperti mmimpi pada beberapa hari sebelumnya.dalam mimpi tersebut,pemuda itu memakai pakaian terbaik dengan wajah berseri-seri dan hati yang gembira.
Lalu, pemuda tersebut berkata, “semoga allah menyayangimu sebagaimana engkau menyayangiku.”  

Sumber : terjemah kitab Ushfuriyah karangan Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-ushfuri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar