Rabu, 21 Maret 2018

kuliah umum

Kuliah umum yang dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Maret 2018 dengan narasumber Bapak Putu Laxman Sanjaya Pendit P.hd. dengan tema “Pengembangan Library Information System dan Dampak Digital Discruption terhadap Kepustakawanan”.

 Apa itu discruption? Discruption berarti kegamangan, keguncangan. Discruption innovation bisa diartikan sebagai inovasi yang mengguncang. Pada mulanya discruption ini hanya terjadi pada bidang ekonomi global, kemudian pada akhirnya merambah ke segala bidang, termasuk perpustakaan. 


Adanya discruption menjadikan :
1.Sesuatu lebih simple.
2.Membuat kualitas lebih baik.
3.Lebih mudah diakses, dijangkau.
4.Pasar menjadi terbuka.
5.Segala sesuatunya menjadi lebih pintar, lebih smart.

 Discruption innovation = orang dengan kemampuan pengetahuannya bisa menggoyahkan usaha-usaha, perusahaan, atau lembaga yang sudah matang, digoyahkan dengan teknologi. Yang menjadi discruption adalah inovasinya, bukan teknologinya.
Sekali lagi, discruption innovation tidak bergantung pada teknologi, melainkan kecerdikan kita melihat kesempatan, melihat peluang yang ada.

 Prinsip-prinsip yang sebaiknya dimiliki perpustakaan :
1.Kebebasan atau keleluasaan akses.
2.Kecerdasan secara bersama.
Peradaban bisa maju kalau semuanya cerdas secara bersama-sama. Sehingga dalam poin ini tidak hanya satu oarang saja yang cerdas, melainkan semuanya cerdas.
3.Penghargaan kepada pribadi.
Poin ketiga ini mencoba mengakomodasikan karakter utama dari manusia, yakni perbedaan. Adanya perbedaan antara indivu satu dengan individu lainnya menuntut sikap saling mengahargai. 

Discruption technology mencakup :
1.Semantic web
2.Open publishing
3.User experience

 Contoh discruption innovation misalnya adalah apps Jogja mendongeng. Pada mulanya, mendongeng adalah hal yang biasa. Namun si A memiliki ide, inovasi, untuk mengubah agar mendongeng bisa menjadi sesuatu yang lebih, sesuatu yang tidak lagi biasa. Si A kemudian mengumpulkan data-data. Mengumpulkan data para pendongeng di Jogja. Mengumpulkan dongeng-dongeng. Lalu si A bekerja sama dengan temannya yang ahli komputer untuk membuat apps Jogja mendongeng. Dengan apps Jogja mendongeng itu, orang lain bisa bergabung. Wah, anakku daripada setiap hari tidak ada kerjaan, mending tak masukin apps Jogja mendongeng, kan tinggal klik, daftar, pokoknya simple, bermanfaat pula. Contoh lain misalnya apps mudik bareng, dll.

 Discruption innovation dilahirkan oleh pustakawan yang inovasi. Oleh karena itu, pendidikan yang sebaiknya diberikan untuk anak-anak ilmu perpustakaan agar kelak dapat menjadi pustakawan yang inovasi adalah :
1.Pondasinya.
Maksud pondasi di sini ialah dia memahami jati dirinya sebagai pustakawan yang baik, memahami orang lain. Poin pertama ini kembali pada 3 prinsip yang sebaiknya dimiliki perpustakaan, seperti yang telah disebutkan diatas (kebebasan akses, kecerdasan secara bersama, dan pengahrgaan terhadap adanya perbedaan). Prinsip ini tidak boleh hilang.
2.Fungsi.
Seorang pustakawan yang inovasi, dia sadar betul apa fungsi pustakawan. Misalnya, tugas pustakawan salah satunya adalah menjernihkan berita-berita hoax yang tersebar di masyarakat. 3.Keterbukaan.



 Sekian, semoga bermanfaat.

Diharapkan adanya kritik dan saran untuk memperbaiki adanya kesalahan yang ada.
 #idks2018 #ipi2018uinsuka #kuliahumum

 Desi Marwanti / IP A / Sem. 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar