blog ini berisi tentang pelatihan ict di uin sunan kalijaga dan juga tugas-tugas yang diberikan oleh penanggung jawabnya.selain itu, blog ini juga berisi tentang uneg-uneg yang ada dipkiran saya.
Minggu, 04 Maret 2018
Pembacaan Tembang Macapat di Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat
Oke gaes, sudah saatnya kita sadar akan kewajiban kita sebagai warga negara yang baik. Apa sih itu? Anak muda jaman sekarang, udah nggak tahu lagi yang mana budaya Indonesia. Bener nggak sih? Budaya Indonesia itu banyak banget gaes. Maka dari itu, sebagai warga negara yang baik, kita harus belajar untuk melestarikannya. Supaya anak cucu kita juga ikut menikmati budaya negaranya sendiri.
Salah satu budaya di Indonesia adalah tembang macapat. Nah, untuk melestarikan tembang macapat ini, di Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat diadakan pembacaan tembang macapat. Sebenarnya nggak hanya penembangan macapat saja, masih banyak kegiatan yang lain, misalkan pertunjukan wayang golek dan wayang kulit. Pertunjukan wayang golek setiap hari Rabu, sedangkan wayang kulit setiap hari Sabtu. Hanya saja disini kita akan fokus pada tembang macapat saja ya gaes.
Sebelumnya, tembang macapat itu ada 11 macam.
1. Dandanggula
2. Pangkur
3. Sinom
4. Durma
5. Asmarandana
6. Kinanti
7. Mijil
8. Gambuh
9. Maskumambang
10. Megatruh
11. Pocung.
Pembacaan tembang macapat ini dilakukan setiap hari Jum’at, pukul 10.00 sampai 11.30 di Bangsal Sri Manganti. Kalau saat bulan puasa, setiap minggu tiga kali, yaitu setiap hari Jum’at, Minggu, dan Rabu. Ketiga hari ini dilaksanakan pada siang hari. Sedangkan malam harinya nyelani di Bangsal Kencono.
Tembang macapat yang dibacakan secara bergantian ini berisi tentang sejarah kehidupan raja-raja ataupun pangeran. Jadi nanti dikitabnya itu sudah ada tandanya, berapa bait-barapa bait. Proses pembacaannya pun ada panitianya sendiri, termasuk yang mengatur siapa yang akan menembangkan, dan sebagainya. Oh ya, yang membacakan itu biasa disebut dengan “pemaos”. Hanya saja ketika penulis melakukan wawancara dengan salah satu pangiritnya, Bapak Pronowijoyo, beliau ngendika kalau saat itu masih dalam proses belajar, jadi ada toleransi. Mau berapa bait, atau lagunya bagaimana, terserah.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, pembacaan tembang macapat ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan yang ada. Selain itu, kita pasti juga salut kalau udah nonton dan dengerin penembangnya. “Gimana ya mbak, bingung sih, saya merasa tertarik, terus salut juga, soalnya nggak bisa.” komentar Anifta Setiarum, salah satu pengunjung di penembangan di keraton.
Intinya, semoga dengan adanya kita membaca tulisan ini, menambah wawasan kita, termasuk amal ibadah yang dicatat malaikat buat kita. Hubbul wathon minal iman. Cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Mari kita bersama-sama melestarikan, menjaga, dan mencintai kebudayaan negara kita. Melestarikan kebudayaan Indonesia, merupakan salah satu sikap kita bahwa kita cinta tanah air kita. Bukankah begitu?
Desi Marwanti/IP A Semester 4
#idks2018 #pertunjukanseni #macapat #kratonjogja #pustakawan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar